Rabu, 13 April 2011

Tugas 1 Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika


DENGAN ADANYA OBYEK YANG DIABSTRAKSI SERTA RUANG DAN WAKTU, MAKA KITA DAPAT MENERJEMAHKAN DAN MEMBANGUN DUNIA
Oleh Meita Fitrianawati/08301244015/P.Mat Swa 08
Salah satu metode belajar filsafat adalah dengan cara menerjemahkan dan diterjemahkan.  Dan kita dapat menerjemahkan dunia karena adanya ruang dan waktu.  Alat yang paling ampuh atau alat istimewa  untuk menerjemahkan adalah abstraksi. Dan banyak hal yang dapat kita katakan mengenai abstraksi yaitu salah satu alat reduksi atau komponen reduksi, selain itu abstraksi adalah segala sesuatu yang secara sadar atau tidak sadar kita lakukan dalam menjalani kehidupan atau abstraksi adalah sesuatu yang terpilih atau memilih ataupun dipilih. Serta abstraksi merupakan pelengkap dan penghubung antara separuh dunia yang ada dalam pikiran kita dengan separuh dunia yang bersifat realistik. Serta keduanya bergantung dari kita di dalam bagaimana kemampuan manusia itu untuk menerjemahkan pikirannya sendiri. Secara tidak sadar, dalam pikiran kita pengetahuan terdiri dari kategori-kategori karena di dalam pikiran kita sudah ada kategori shingga kita dapat memperoleh pengetahuan. Kategori tersebut secara umum terdiri dari empat  macam yaitu kualitatif, kuantitatif, relasi dan kategori. Dimana keempatnya masing-masing mempunyai 3 aspek sehingga kita mempunyai 12 macam kategori untuk menggapai cita-cita kita yaitu membangun pengetahuan. dari keempat kategori yaitu kualitatif, kuantitatif, relasi dan kategori  dengan menggunakan abstraksi, kita dapat menterjemahkan menjadi hal-hal yang bisa digunakan untuk menggapai separuh dunia yang realistik yaitu separuh dunia di luar pikiran kita. Dan di dalam kita menggapai pikiran kita, kita harus sopan santun terhadap ruang dan waktu.
Salah satu hal yang ada di dalam pikiran atau di luar pikiran kita adalah menggunakan titik untuk menerjemahkan dunia. Kita dapat menerjemahkan titik dari berbagai sudut pandang karena titik sebagai obyek berpikir dengan subyeknya adalah kesadaran kita.  Dan kita dapat mempunyai kesadaran dikarenakan  ruang dan waktu serta dengan kesadaran itulah kita dapat memberikan seribu makna  dari sebuah titik. Salah satu makna dari titik adalah sebagai potensi dan sebagai fakta. Karena titik merupakan obyek berpikir maka titik adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dan kesadaran berkembang dalam ruang dan waktu.
Di dalam abstraksi, titik dijelaskan/diterangkan dengan ideal. Dan di dalam dunia matematika, titik dapat berpotensi menjadi garis, berpotensi menjadi bidang, berpotensi menjadi lingkaran, berpotensi menjadi balok dan berpotensi menjadi bangun yang tak beraturan.  Akan tetapi hal yang harus kita ingat adalah di dalam pendidikan titik dan garis  adalah separuh dunia.  Separuh dunia yang lain dapat berupa bak atau kubus yang berisi air atau sebuah bongkahan batu dari gunung merapi.  Dan dari titik dan garis  menimbulkan kesadaran yang ada dalam pikiran kita karena titik dan garis berada di dalam kesadaran kita. Akan tetapi kesadaran itu haruslah sesuai dengan keberadaan ruang dan waktu yang tidak dapat terpisahkan dari dalam pikiran kita. Kesadaran akan suatu benda dalam pikiran kita adalah penggapaian separuh dunia sedangkan separuh dunia yang lain kita belum tahu keberadaannya sebelum kita mampu untuk menerjemahkan hal yang ada dalam pikiran kita dalam kehidupan realistik kita. jika kita tidak mampu melihat kenyataan separuh dunia lain yaitu di luar pikiran kita tentang apa yang kita pikirkan dari benda-benda tersebut maka kesadaran ini adalah kesadaran yang merupakan logika atau  angan-angan yang masih belum dapat kita gunakan untuk menggapai dunia yang seutuhnya.  Logika ada dikarenakan sebuah pengalaman dan untuk menunjukkan bahwa hal yang ada di dalam pikiran kita merupakan suatu kenyataan, maka kita membutuhkan pengalaman-pengalaman yang dapat kita lakukan sebagai upaya untuk menggapai separuh dunia yang ada di luar pikiran kita. Sebagai contoh adalah limas terpancung dalam blok adalah sebuah kenyataan sedangkan limas terpancung dalam batu nisan adalah pikiran. hubungan antara pikiran dan kenyataan adalah tercipta logos dan mitos.  Dimana mitos adalah pengalaman-pengalaman yang telah kita lalui sedangkan logos adalah apa yang ada di dalam pikiran kita. Dan keduanya mempunyai hubungan yang berkebalikan. Sebagai contoh adalah bunga dimana warna-warna bunga yang ada saat ini mempunyai hal yang mempunyai makna dan arti yang saling berkebalikan antara warna bergantung dari ruang dan waktunya. Antara lain pink adalah muda dan ungu adalah yang tua.
Di dalam fisika yang telah kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antara titik dan garisjika dikaitkan dengan pikiran dan kenyataan salah satunya  adalah kecepatan dari suatu hal yang digambarkan sebagai garis lurus. Setelah mempelajari fisika, Kita dapat mengetahui bahwa kecepatan mempunyai rumus yaitu v = s : t  sedangkan jika kita melakukan suatu praktek dengan mengendarai kendaraan, kita akan memperoleh kecepatannya. Sehingga dari keduanya diperoleh dunia yang seutuhnya yaitu antara teori dan praktek mempunyai hubungan yang terlihat antar keduanya yang sudah ada dalam pikiran kita dan yang ada dalam kenyataan.
Di dalam pikiran kita, titik-titik merupakan termasuk dalam kategori kuantitas, yang telah dipaparkan di awal tadi bahwa pikiran kita terdapat empat macam kategori yaitu kualitatif, kuantitatif, relasi dan kategori.
Di dalam bidang matematika selain dalam titik abstraksi juga dapat kita terapkan dalam bidang statistika. Misalkan tentang juling kanan, juling kiri dan kurva normal. Penerapan dari kurva normal yang sebenarnya masih abstrak jika kita hanya memikirkannya saja. Itulah separuh dunia yang ada di dalam pikiran kita sebelum adanya hal yang ada dan yang mungkin ada dari suatu pengalaman yang sudah kita lakukan. Menurut Bapak Marsigit, ditengah-tengah pikiran dan kenyataan merupakan data, daerah penerimaan, dan standar deviasi jika kita mengaitkannya di dalam statistika. Serta di dalam statistika, abstraksi adalah rata-ratanya.Di dalam kehidupan kita sehar-hari, kita dapat mengambil contoh bahwa bukan berapa tapi apa? Yaitu apa yang ada dan yang mungkin ada. Serta di dalam kehidupan sehari-hari pula kita dapat mengaitkan kurva normal dengan konteks kehidupan dari orang jawa/indonesia yang cenderung mencari kenyamanan atau kebahagiaan adalah sebuah hidup yaitu berada di tengah yaitu berada di daerah rata-rata sebab berkaitan dengan apa yang ada  juga apa yang mungkin ada. Secara umum, konteks orang jawa/indonesia bahagia yang umum sama dengan orang lain da tidak dari deviasi/penyimpangan untuk pengambilan keputusan/toleransi. Dan  di akhir kurva normal berisi banyak problematik bermasalah  kehidupan yang perlu untuk dijelaskan. Sebagai contoh dari problematic bermasalah misalnya adalah seseorang yang kebanyakan membaca elegi atau yang melampui batas maka orang jawa akan melakukan suatu ruwatan atau ritual atau peyelesaian atau komunikasi atau penyucian untuk menghilangkan masalah yang ada dalam diri seseorang tersebut. Atau dalam bahasa filsafat adalah diterangkan atau dijelaskan. Dimana ruwatan ini merupakan suatu hal yang mentransfer segenap jiwa dan raga ke dalam ruang dan waktu yang baru.  Sebagi contoh lain dari problematik bermasalah dalam orang jawa adalah jika seseorang punya anak 3 dengan sendang apit pancuran yaitu laki-laki diapit oleh perempuan maka dalam mitos orang jawa jika tidak diadakan ritual maka akan dimakan batara atau bernasib sial sehingga harus diadakan ritual yaitu salah satunya dengan wayangan semalam suntuk.
Perlu kita sadari bahwa yang ada dan yang mungkin ada telah melekat pada diri kita. Sehingga kita dapat menggapai dunia yang seutuhnya yang berasal dari separuh dunia yang ada dalam pikiran kita dan separuh dunia lagi dari luar pikiran kita dari apa yang telah kita peroleh dengan teori dan praktik. Masing-masing dari atas ke bawah. Dan dengan menggunakan pola berpikir Imanuel kant, hal tersebut dapat kita pisahkan menjadi dua bagian yaitu dunia yang ada di dalam pikiran kita yang bersifat transenden, logika, koheren, postulat, matematika formal, aksioma, apriori, analitik, rasionalism serta separo dunia lain yang berada di luar pikiran kita yang bersifat fisik, pemandangan, sitetik, dinamik (korespondensi), aposteriori(empirism), pengalaman, persepsi dan panca indra.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa  Dengan Adanya Obyek Yang Diabstraksi Serta Ruang Dan Waktu, Maka Kita Dapat Menerjemahkan dan Membangun Dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar